Lawan Covid 19: Inilah Beberapa Aktivitas Barter Economy di Berbagai Negara Saat Pandemi

Lawan Covid 19: Inilah Beberapa Aktivitas Barter Economy di Berbagai Negara Saat Pandemi

Di tengah ketidakpastian ekonomi, sistem barter mengalami peningkatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Salah satunya, terbentuknya “Komunitas Barter United Kingdom” yang dimulai pada 23 April dan sudah memiliki 1.300 anggota pada awal Agustus, dimana dengan adanya komunitas ini mereka dapat melakukan aktivitas barter seperti menukar kari, roti dan kue-kue dengan baju-baju dan DVD milik mereka.

Di seluruh dunia, orang-orang beralih ke tukar-menukar dan barter selama pandemi virus corona, baik untuk membantu komunitas lokal, menghemat uang, atau sekadar mencari bahan kue yang sulit ditemukan. Dengan ketidakpastian ekonomi dan tingkat kecemasan yang meningkat, barter menjadi solusi alternatif yang muncul untuk bertahan dan mencari kesibukan di tengah Covid-19.

Menurut Mantan Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menilai mekanisme barter dapat memperbaiki neraca perdagangan Indonesia yang kerap terjungkal. Metode lama tersebut diyakini akan menguntungkan pemerintah sekaligus pengusaha. Aktivitas barter tidak hanya dilakukan di UK ataupun Indonesia, Adapun beberapa aktivitas barter economy yang dilakukan beberapa negara saat ini.

1. India: Jasa mengajar dibarterkan dengan sayuran dan gandum.  

Sebagian besar penduduk desa di India adalah pekerja upahan harian yang kehilangan pekerjaan karena pandemi. Di desa Chandrapur di negara bagian Assam di India Timur Laut memiliki model studi yang unik. Ketika sekolah telah ditutup sejak Maret karena pandemi, membuat anak-anak tidak memiliki akses untuk belajar. Akibatnya, terbentuklah komunitas pengajaran yang semakin populer yang disebut “kelas barter”. Alih-alih menggunakan uang, orang tua membayar pelajaran hari itu dengan sayuran ataupun nasi. 

Dengan adanya sistem ini, membantu masyarakat menghemat uang untuk pengeluaran mendesak. Ketika pendapatan pedesaan turun, desa-desa lain juga mengadopsi model ini. Di desa Nayagaon di negara bagian Bihar, India Utara, seorang guru privat datang untuk mengajar anak-anak ini di rumah mereka. Salah satu orang tua murid membayar sekolah perbulan senilai 15 dollar dengan menggunakan 5 kg hasil panen gandumnya untuk membayar gurunya. 

2. Venezuela: Menukar ikan dengan jenis makanan dan minuman serta barang lainnya

Perekonomian Venezuela telah benar-benar runtuh, dengan inflasi melangit yang diperkirakan mencapai 10 juta persen tahun ini, menurut IMF. Mata uang Venezuela sangat terdevaluasi sehingga tidak cukup untuk bertahan hidup, membuat masyarakat disana beralih menggunakan aktivitas barter untuk bertahan hidup. Salah satu nya, nelayan di Puerto La Cruz menukar hasil tangkapan ikan mereka dengan beras, tepung, susu, minyak, atau apa pun yang bisa mereka bawa untuk bisa bertahan hidup hari demi hari. 

3.     Filipina: Sepatu ditukar dengan ayam & jaket ditukar dengan beras 6 kg.

Covid-19 menyebabkan jutaan orang terkena PHK dan terpaksa tinggal di rumah selama lockdown. Meski tidak ada penghasilan, mereka terus mencari cara untuk bertahan hidup. Banyak orang Filipina yang menawarkan barter via Facebook, diantaranya perkakas dapur, mainan anak, hingga tas desainer. Salah satu warga Filipina membarterkan jaket bulu untuk bayi dan hoodie Ralph Lauren dengan beras seberat 6 kg untuk bertahan hidup saat pandemic. Dilanjut dengan membarter sepatu Nike dengan ayam. Benda-benda tersebut kebanyakan ingin ditukar dengan makanan. Diketahui negara ini melakukan lockdown untuk mengurangi penularan Covid-19 selama berbulan-bulan sejak Maret. Akibatnya Filipina terjun ke jurang resesi yang dalam. Lockdown menekan anggaran rumah tangga dan membatasi gerak warga sehingga muncul aktivitas barter untuk membantu perekonomian masyarakat disana. 

4.     Indonesia: Nelayan dan petani di Indramayu melakukan barter

Desa Tenajar, Kecamatan Kertasemaya, Kabupaten Indramayu menerapkan sistem barter dimana Nelayan yang bergabung pada Serikat Nelayan Indonesia (SNI) melakukan barter dengan para petani yang tergabung ke dalam Paguyuban Tani Tenajar. Bahan pangan yang dibarter tentunya memiliki nilai jual yang setara dan telah disepakati oleh kedua belah pihak.

Adapun bahan pangan yang ditukar seperti ikan dan beras. Dua komoditas pangan ini cukup bernilai di pasar. Namun saat pandemi seperti ini, harga ikan merosot tajam karena sepinya pembeli. Hal itulah yang membuat nelayan khawatir karena mereka kesulitan untuk membeli bahan pangan lain seperti beras dan sayuran. Sama halnya dengan harga gabah yang juga tidak bersahabat dengan para petani. Di tengah pandemic covid-19 sistem barter bisa membantu kedua belah pihak dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari dan mengurangi kemiskinan dan kerawanan pangan.

Untuk mempermudah melakukan aktivitas barter saat ini. Digibarter.Id bisa menjadi wadah untuk masyarakat atau para pengusaha agar lebih mudah melakukan tukar menukar barang atau jasa. Yuk join sekarang #dibarterinaja di DigiBarter.ID!. Cari tahu selengkapnya mengenai produk digibarter di website https://digibarter.id untuk mencoba melakukan aktifitas barter secara langsung atau info selengkapnya bisa kunjungi social media kami di Instagram, LinkedIn, dan Tiktok dibawah ini.

Instagram : Digibarter.id 

TikTok    : digibarter.id 

LinkedIn : DigiBarter.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *